Sabtu, 24 Nopember 2009, pukul 04.00 saya bangun dari tidur dan segera berkemas-kemas, karena pagi ini saya akan mengikuti tim Komandan mendaki puncak gunung lawu. Setelah berkumpul di depan Mako, kami briefing sebentar diambil oleh Kepala urusan umum dan setelah di chek lengkap, kami segera berangkat menuju titik berkumpul di Cemoro Sewu, karena Komandan sudah meluncur duluan dan menunggu di tempat titik berkumpul. Sekitar jam 05.45 pagi kami sudah siap di depan gapura jalan utama pendakian Cemoro Sewu dan diambil oleh Komandan, setelah briefing sebentar Komandan menyampaikan bahwa kita mendaki melalui jalur pendakian cemoro sewu dan turun melalui jalur cemoro kandang. Karena ada dua titik jalur pendakian yang tersedia, jalur Cemoro Sewu yang masuk wilayah Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Jalur Cemoro Kandang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa tengah. Setelah semua siap, komandan memimpin kami untuk berdo’a, lalu mulailah kami melangkahkan kaki menyusuri jalur pendakian. Saya hanya berbekal tas kecil berisi sebungkus roti dan tiga botol air mineral, tidak seperti layaknya para pendaki, yang berbekal berbagai perlengkapan pendakian. Pagi itu cuaca cukup cerah, mudah-mudahan saja pendakian lancar.
Menurut informasi dari penduduk sekitar gerbang pendakian, jarak pendakian ke puncak Lawu dari arah Cemoro Sewu sekitar 9.000 m, sedangkan bila dicapai dari arah Cemoro Kandang 12.000 m.
Rute Cemoro Sewu ini memang rute yang enak dan aman. Sepanjang jalan di rute ini kondisinya berupa jalan berbatu, yaitu jalan yang sudah diperkeras dengan pemasangan batu. Tidak ada lagi jalan tanah. Nampaknya pemerintah Magetan melihat perlunya memperbaiki fasilitas jalan menuju puncak Lawu, demi kenyamanan dan keamanan para peziarah maupun juga bagi wisatawan, pecinta alam atau pendaki gunung. Pembangunan infrastruktur jalan batu ini baru diselesaikan sejak beberapa tahun terakhir.
Beberapa ratus meter pertama menyusuri jalur pendakian ini kami melewati kawasan hutan cemara. Jalan batu yang mulai agak menanjak bagai membelah rimbunan pepohonan cemara yang tumbuh liar di sisi kiri dan kanan jalan. Kami pun naik-naik ke puncak gunung… tinggi… tinggi sekali…. kiri kanan kulihat saja… banyak pohon cemara… Begitu, senandung dalam hati.
Barangkali itulah sebabnya kawasan itu disebut Cemoro Sewu, karena banyaknya pohon cemara di sana. Baunya khas, suasananya damai, pemandangannya hijau menyejukkan (selain karena cuaca cukup cerah dan angin dingin masih berhembus sepoi-sepoi basah).
Setelah beristirahat di POS-1 Wasenan yang relatif datar dengan jarak kurang lebih 1,99 Km, kami melanjutkan perjalanan ke Pos-2 (Watugedhek) dengan jarak kurang lebih 2 km. Kelelahan sudah memuncak akibat dari pagi hingga POS-2 saya dan rombongan belum istirahat dan saya memutuskan untuk berjalan terus walaupun akhirnya saya ketinggalan dari rombongan dan berjalan sendirian.
Menurut informasi dari penduduk sekitar gerbang pendakian, jarak pendakian ke puncak Lawu dari arah Cemoro Sewu sekitar 9.000 m, sedangkan bila dicapai dari arah Cemoro Kandang 12.000 m.
Rute Cemoro Sewu ini memang rute yang enak dan aman. Sepanjang jalan di rute ini kondisinya berupa jalan berbatu, yaitu jalan yang sudah diperkeras dengan pemasangan batu. Tidak ada lagi jalan tanah. Nampaknya pemerintah Magetan melihat perlunya memperbaiki fasilitas jalan menuju puncak Lawu, demi kenyamanan dan keamanan para peziarah maupun juga bagi wisatawan, pecinta alam atau pendaki gunung. Pembangunan infrastruktur jalan batu ini baru diselesaikan sejak beberapa tahun terakhir.
Beberapa ratus meter pertama menyusuri jalur pendakian ini kami melewati kawasan hutan cemara. Jalan batu yang mulai agak menanjak bagai membelah rimbunan pepohonan cemara yang tumbuh liar di sisi kiri dan kanan jalan. Kami pun naik-naik ke puncak gunung… tinggi… tinggi sekali…. kiri kanan kulihat saja… banyak pohon cemara… Begitu, senandung dalam hati.
Barangkali itulah sebabnya kawasan itu disebut Cemoro Sewu, karena banyaknya pohon cemara di sana. Baunya khas, suasananya damai, pemandangannya hijau menyejukkan (selain karena cuaca cukup cerah dan angin dingin masih berhembus sepoi-sepoi basah).
Setelah beristirahat di POS-1 Wasenan yang relatif datar dengan jarak kurang lebih 1,99 Km, kami melanjutkan perjalanan ke Pos-2 (Watugedhek) dengan jarak kurang lebih 2 km. Kelelahan sudah memuncak akibat dari pagi hingga POS-2 saya dan rombongan belum istirahat dan saya memutuskan untuk berjalan terus walaupun akhirnya saya ketinggalan dari rombongan dan berjalan sendirian.
Perjalanan menuju POS-3 (watu gedhe) yang berjarak hanya 700 meter namun rutenya terus mendaki dengan bebatuan tajam membuat lambatnya perjalanan,, saya sendirian berjalan tertatih-tatih dan saya sempat berpikiran untuk kembali, namun saya bertekat untuk bisa mencapai puncak lawu dan akhirnya sampailah kami di POS-3 dan istirahat sebentar sambil menenggak minuman mineral yang saya bawa.
Perjalanan dari Pos-3 watu gedhe sampai Pos-4 watu kapur hanya berjarak 200 meter selanjutnya ke Pos-5 Jolotundo dengan jarak 300 meter merupakan perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, tanjakan curam dan pipa-pipa besi pegangan seolah nggak pernah habis, tanjakan curam dan pegangan besi yang terasa dingin apabila dipegang menghambat perjalanan saya. Setiap langkah saya berhenti untuk istirahat, akhirnya sampailah saya di pos 5 (Jolotundo).
Dan.....Alhamdullillahi robbil alamin..... sungguh saat-saat seperti ini adalah suatu kenikmatan yang luar biasa, akhirnya sampailah aku di puncak lawu 3265 dpl


Tidak ada komentar:
Posting Komentar