Rabu, 09 Desember 2009

menggapai pUncaK lawu


Sabtu, 24 Nopember 2009, pukul 04.00 saya bangun dari tidur dan segera berkemas-kemas, karena pagi ini saya akan mengikuti tim Komandan mendaki puncak gunung lawu. Setelah berkumpul di depan Mako, kami briefing sebentar diambil oleh Kepala urusan umum dan setelah di chek lengkap, kami segera berangkat menuju titik berkumpul di Cemoro Sewu, karena Komandan sudah meluncur duluan dan menunggu di tempat titik berkumpul. Sekitar jam 05.45 pagi kami sudah siap di depan gapura jalan utama pendakian Cemoro Sewu dan diambil oleh Komandan, setelah briefing sebentar Komandan menyampaikan bahwa kita mendaki melalui jalur pendakian cemoro sewu dan turun melalui jalur cemoro kandang. Karena ada dua titik jalur pendakian yang tersedia, jalur Cemoro Sewu yang masuk wilayah Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Jalur Cemoro Kandang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa tengah. Setelah semua siap, komandan memimpin kami untuk berdo’a, lalu mulailah kami melangkahkan kaki menyusuri jalur pendakian. Saya hanya berbekal tas kecil berisi sebungkus roti dan tiga botol air mineral, tidak seperti layaknya para pendaki, yang berbekal berbagai perlengkapan pendakian. Pagi itu cuaca cukup cerah, mudah-mudahan saja pendakian lancar.
Menurut informasi dari penduduk sekitar gerbang pendakian, jarak pendakian ke puncak Lawu dari arah Cemoro Sewu sekitar 9.000 m, sedangkan bila dicapai dari arah Cemoro Kandang 12.000 m.
Rute Cemoro Sewu ini memang rute yang enak dan aman. Sepanjang jalan di rute ini kondisinya berupa jalan berbatu, yaitu jalan yang sudah diperkeras dengan pemasangan batu. Tidak ada lagi jalan tanah. Nampaknya pemerintah Magetan melihat perlunya memperbaiki fasilitas jalan menuju puncak Lawu, demi kenyamanan dan keamanan para peziarah maupun juga bagi wisatawan, pecinta alam atau pendaki gunung. Pembangunan infrastruktur jalan batu ini baru diselesaikan sejak beberapa tahun terakhir.
Beberapa ratus meter pertama menyusuri jalur pendakian ini kami melewati kawasan hutan cemara. Jalan batu yang mulai agak menanjak bagai membelah rimbunan pepohonan cemara yang tumbuh liar di sisi kiri dan kanan jalan. Kami pun naik-naik ke puncak gunung… tinggi… tinggi sekali…. kiri kanan kulihat saja… banyak pohon cemara… Begitu, senandung dalam hati.
Barangkali itulah sebabnya kawasan itu disebut Cemoro Sewu, karena banyaknya pohon cemara di sana. Baunya khas, suasananya damai, pemandangannya hijau menyejukkan (selain karena cuaca cukup cerah dan angin dingin masih berhembus sepoi-sepoi basah).
Setelah beristirahat di POS-1 Wasenan yang relatif datar dengan jarak kurang lebih 1,99 Km, kami melanjutkan perjalanan ke Pos-2 (Watugedhek) dengan jarak kurang lebih 2 km. Kelelahan sudah memuncak akibat dari pagi hingga POS-2 saya dan rombongan belum istirahat dan saya memutuskan untuk berjalan terus walaupun akhirnya saya ketinggalan dari rombongan dan berjalan sendirian.
Perjalanan menuju POS-3 (watu gedhe) yang berjarak hanya 700 meter namun rutenya terus mendaki dengan bebatuan tajam membuat lambatnya perjalanan,, saya sendirian berjalan tertatih-tatih dan saya sempat berpikiran untuk kembali, namun saya bertekat untuk bisa mencapai puncak lawu dan akhirnya sampailah kami di POS-3 dan istirahat sebentar sambil menenggak minuman mineral yang saya bawa.


Perjalanan dari Pos-3 watu gedhe sampai Pos-4 watu kapur hanya berjarak 200 meter selanjutnya ke Pos-5 Jolotundo dengan jarak 300 meter merupakan perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, tanjakan curam dan pipa-pipa besi pegangan seolah nggak pernah habis, tanjakan curam dan pegangan besi yang terasa dingin apabila dipegang menghambat perjalanan saya. Setiap langkah saya berhenti untuk istirahat, akhirnya sampailah saya di pos 5 (Jolotundo).
Tidak berapa lama kemudian saya melanjutkan kembali perjalanan saya, sambil tertatih-tatih saya melangkah dan melangkah akhirnya tibalah saya di Sendang Drajat. Saya bertemu sepasang suami istri mbok yem dan pak parto saya memutuskan untuk istirahat, saya melongok rumah yang dihuni oleh mbok yem, kebetulan sedang menggoreng tempe, saya mengambil sepotong tempe, sambil menikmati tempe saya terlentang di teras rumah mbok yem, tak berapa lama kemudian pak parto mengambil selembar tikar dan menggelarnya, “niki mas buat alas, dingin disini”. Setelah menikmati 3 potong tempe goreng dan membayarnya, “tiga ribu mas”, kata mbok yem, saya memutuskan untuk berjalan kembali. Tidak berapa lama saya sampai di hargo dalem dan saya ketemu seorang perempuan, “dibawah masih banyak to mas”, saya jawab “masih, buk”, di hargo dalem saya melihat ada beberapa bangunan rumah berdiri kokoh dan bendera merah putih berkibar, saya bergumam, ada juga ya yang mau mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung nan sepi ini. Ketika saya meliwati bangunan rumah, saya ragu-ragu karena jalan menuju puncak tidak jelas dan tidak ada petunjuk, saya balik lagi ke rumah-rumah itu, kebetulan ada seorang laki-laki sedang makan, saya bertanya, “mas, jalan menuju puncak mana”, laki-laki itu keluar rumah sambil memegang piring nasi, “lewat samping itu pak lurus keatas, paling 10 menit lagi sampai puncak”, katanya. Sambil tertatih-tatih, saya berjalan mengikuti petunjuk yang disampakan orang tadi, tetapi karena begitu banyak jalan persimpangan, saya jadi bingung. Disaat saya bingung menentukan arah, tiba-tiba ada 2 ekor burung menghampiri saya, saya jadi ingat cerita orang-orang yang pernah mendaki puncak lawu, bahwa ada sejenis burung yang ketika kita bingung mencari jalan, akan membantu kita. akhirnya saya mencoba mengikuti kedua ekor burung itu, akhirnya saya mendengar suara teman-teman, saya berpikir mungkin itu puncaknya.
Dan.....Alhamdullillahi robbil alamin..... sungguh saat-saat seperti ini adalah suatu kenikmatan yang luar biasa, akhirnya sampailah aku di puncak lawu 3265 dpl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDAPAT orang lemah

saya, tidaklah bodoh-bodoh amat....mungkin diantara pembaca ada yang sependapat, apakah diri saya yang sebenarnya tidak terlalu ketinggalan dengan hal-hal yang berbau kemajuan ini dikatakan goblok (?). apakah orang yang sebenarnya bodoh dengan memaksakan diri itu dikatakan pintar ?