Rabu, 09 Desember 2009

mAsa KECILku

EMPAT PULUH DUA tahun yang lalu aku dilahirkan, di sebuah desa kecil selatan wilayah Kab. Magetan jawa timur. Aku delapan bersaudara dan aku nomor delapan, mungkin waktu itu orang tuaku masih menganut paham banyak anak, banyak rejeki…. hingga ibuku melahirkan banyak anak.
Bapakku seorang pensiunan tentara dan ibuku seorang ibu rumah tangga, kami hidup dalam kesederhanaan.   Lauk pauk daging….? Itu aku temui dan aku nikmati jika di rumahku sedang selamatan, hari-hari hanya ikan asin bakar dan kerupuk. Mungkin keadaan ini tidak akan ditemui oleh anak-anak di jaman yang sudah serba maju seperti sekarang ini.
Sekolah Dasar aku jalani seperti umumnya anak-anak desa waktu itu, sekolah tanpa alas kaki, tas sekolah hanya sebuah plastik bungkus bekas yang dipakai untuk tempat buku, sekedar menghindari basah jika cuaca hujan. Namun aku bisa menjalaninya tanpa merasa berat. Diantara teman-temanku sekelas, aku termasuk anak yang cerdas, terbukti aku sempat mewakili cerdas tangkas tingkat sekolah dasar se kecematan dan aku menjadi juara 3 dari 12 peserta.
Selepas pulang sekolah, tidak ada kata istirahat ataupun tidur siang, selesai makan aku harus segera menggembala kambing sambil mencari kayu bakar, itu sudah kerjaan rutinku setiap hari. Karena kalau aku lalai dan malas mengerjakan pekerjaanku itu, ibuku akan ngomel-ngomel. Satu hal yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan, ketika aku pulang menggembala kambing, sungai belakang rumahku sedang banjir. Aku nekat menyeberangkan kambing-kambingku dan ketika sampai ditengah sungai satu dari kambingku hanyut terbawa arus, aku menangis sambil teriak-teriak minta tolong, beruntung kambingku bisa berenang dan minggir ke tepian sungai dan selamat, aku senang sekali. Sambil membawa kayu bakar aku menggiring kambing-kambingku kembali ke rumah.
Ketika malam tiba, selepas aku makan malam ala kadarnya, karena tidak jarang ibuku hanya merebus singkong sebagai pengganti nasi, aku belajar yang hanya memakai ublik (lampu yang dibuat dari kaleng minyak dan diberi sumbu), dan bisa dibayangkan ketika pagi bangun tidur, hidungku berlepotan langes (abu dari sumbu ublik) dan hitam-hitam. Hiburan ? Boro-boro hiburan televisi, radiopun masih jarang ada. Kalaupun ingin nonton televisi, aku harus berjalan kaki menuju kecamatan yang jaraknya kurang lebih 4 km, namun beruntung ketika itu desaku menjadi pemenang pemilu dari salah satu partai politik dan kata pak kepala desa, “ini hadiah pemilu”, jadi aku bisa nonton di rumah kepala desa. Itupun harus baik-baik dengan putra putrinya kepala desa, karena kalau kita gaduh dan tidak mau mengikuti aturan yang punya rumah, maka televisinya dimatikan, pokoknya kita harus munduk-munduklah… Dan tidak jarang pas acaranya bagus, ujug-ujug televisinya mati, karena accunya habis, karena waktu itu listrik PLN belum sampai di desaku sehingga televisi waktu itu masih menggunakan accu.
Hiburan lain, kalau sedang musim kemarau, biasanya di lapangan desaku ada tonil ludruk, hiburan khas jawa timuran. Aku masih ingat, waktu itu karcis tanda masuk menonton hanya Rp. 100,- Biasanya ibuku selalu ngajak nonton bareng-bareng, maklum waktu itu usiaku masih anak-anak, jadi aku belum boleh nonton sendiri. Sore hari ibuku membuat makanan kecil untuk dibawa nonton ludruk, kata ibu nanti tidak usah jajan, uang yang ada digunakan untuk membeli tiket tanda masuk, aku nurut saja..

Itulah sekelumit kisah masa kecilku dan aku yakin kisah ini tidak akan ditemui oleh anak-anak kita sekarang, aku sedih kalau mengingat masa-masa itu dan tidak terasa air mataku menetes, aku langkahkan kakiku keluar rumah, melihat bulan dan bintang yang menghiasi malam dan kemudian membayangkan masa kecilku yang menawarkan kehangatan yang selalu kurindukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDAPAT orang lemah

saya, tidaklah bodoh-bodoh amat....mungkin diantara pembaca ada yang sependapat, apakah diri saya yang sebenarnya tidak terlalu ketinggalan dengan hal-hal yang berbau kemajuan ini dikatakan goblok (?). apakah orang yang sebenarnya bodoh dengan memaksakan diri itu dikatakan pintar ?