Sabtu, 12 Desember 2009

fenomena wanita-wanita desa yang menjadi TKI

da banyak alasan mengapa terjadi percerian dalam rumah tangga,Kalau para celibrity punya alasan sendiri2 yang dapat kita lihat, baca dan dengar di media cetak atau electronic.
Kalau orang berduit juga punya alasan tersendiri.
Kalau masyarakat biasa banyak hal yang dapat kita lihat dan dengar.
dari kesulitan ekonomi,kagak cocok dgn mertua, ipar dlsb. Ada yang ketahuan selingkuh, selingkuh disini bukan haya dalam artian punya simpanan (laki2 atau perempuan)tetapi juga dalam kejujuran masing2 pasangan umpamanya gak jujur dalam keuangan, ada dompet kecil lain yang di umpetin.yang digunakan diluar kebutuhan rumah tangga. apakah diam2 kirim ke orang tua atau saudara.Ada juga yang buat biaya simpananya.Selalu yang jadi permasalahan adalah ketidak jujuran pasangan.ada yang pernikahan dijodohkan pihak keluarga, yang berakhir dgn perceriaan(gak banyak, kan bukan zaman siti Nurbaya lagi)Ada faktor untuk dapat keturunan. Bukan baikin keturunan,kawin ama Bule contohnya,karena ber -tahun2 gak dapat buah hati (jadi cari hati lain yang bisa berbuah he he heee.)kalau di desa yang ekonomi sulit terpaksa jadi TKI/TKW ber tahun2 jauh siapa tahan yaaaa kan.
Jadi alasan ter besar adalah gak ada lagi kejujuran dan masalah ekonomi, kalau gak ada kecocokan lagi kan aneh dulu cocok ampek anak renteng panci tapi cerai juga masa gak bisa dicocokin lagi, kan ada badan penasehat perkawinan. yach manusia memang aneh nafsunya yang bawa dia ke mana2,jadi gak jujur lagi.
Masih banyak factor lain yang jadi alasan mengapa cerai,mohon teman2 lain kasih

puiSi keHiduPan


Waktu demi waktu berlalu sudah
Kemana langkah kaki ini berjalan
Lika-liku kehidupan mengukir sejarah
Kini saatnya berpotret diri
Berbenah dari segala keburukan
Meningkatkan semua kebaikan
Ramadhan sebentar khan tiba
Kini saatnya tuk membuka pintu hati
Memaafkan semua kehilafan
Mari kita sambut dengan gembira
Dengan memperbanyak ibadah
Tuk menggapai tingkatan taqwa
Derajat tertinggi disisi khalik
Semoga Allah selalu membimbing kita
dan nanti memasukkan kita dalam surga-Nya....

Rabu, 09 Desember 2009

mAsa KECILku

EMPAT PULUH DUA tahun yang lalu aku dilahirkan, di sebuah desa kecil selatan wilayah Kab. Magetan jawa timur. Aku delapan bersaudara dan aku nomor delapan, mungkin waktu itu orang tuaku masih menganut paham banyak anak, banyak rejeki…. hingga ibuku melahirkan banyak anak.
Bapakku seorang pensiunan tentara dan ibuku seorang ibu rumah tangga, kami hidup dalam kesederhanaan.   Lauk pauk daging….? Itu aku temui dan aku nikmati jika di rumahku sedang selamatan, hari-hari hanya ikan asin bakar dan kerupuk. Mungkin keadaan ini tidak akan ditemui oleh anak-anak di jaman yang sudah serba maju seperti sekarang ini.
Sekolah Dasar aku jalani seperti umumnya anak-anak desa waktu itu, sekolah tanpa alas kaki, tas sekolah hanya sebuah plastik bungkus bekas yang dipakai untuk tempat buku, sekedar menghindari basah jika cuaca hujan. Namun aku bisa menjalaninya tanpa merasa berat. Diantara teman-temanku sekelas, aku termasuk anak yang cerdas, terbukti aku sempat mewakili cerdas tangkas tingkat sekolah dasar se kecematan dan aku menjadi juara 3 dari 12 peserta.
Selepas pulang sekolah, tidak ada kata istirahat ataupun tidur siang, selesai makan aku harus segera menggembala kambing sambil mencari kayu bakar, itu sudah kerjaan rutinku setiap hari. Karena kalau aku lalai dan malas mengerjakan pekerjaanku itu, ibuku akan ngomel-ngomel. Satu hal yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan, ketika aku pulang menggembala kambing, sungai belakang rumahku sedang banjir. Aku nekat menyeberangkan kambing-kambingku dan ketika sampai ditengah sungai satu dari kambingku hanyut terbawa arus, aku menangis sambil teriak-teriak minta tolong, beruntung kambingku bisa berenang dan minggir ke tepian sungai dan selamat, aku senang sekali. Sambil membawa kayu bakar aku menggiring kambing-kambingku kembali ke rumah.
Ketika malam tiba, selepas aku makan malam ala kadarnya, karena tidak jarang ibuku hanya merebus singkong sebagai pengganti nasi, aku belajar yang hanya memakai ublik (lampu yang dibuat dari kaleng minyak dan diberi sumbu), dan bisa dibayangkan ketika pagi bangun tidur, hidungku berlepotan langes (abu dari sumbu ublik) dan hitam-hitam. Hiburan ? Boro-boro hiburan televisi, radiopun masih jarang ada. Kalaupun ingin nonton televisi, aku harus berjalan kaki menuju kecamatan yang jaraknya kurang lebih 4 km, namun beruntung ketika itu desaku menjadi pemenang pemilu dari salah satu partai politik dan kata pak kepala desa, “ini hadiah pemilu”, jadi aku bisa nonton di rumah kepala desa. Itupun harus baik-baik dengan putra putrinya kepala desa, karena kalau kita gaduh dan tidak mau mengikuti aturan yang punya rumah, maka televisinya dimatikan, pokoknya kita harus munduk-munduklah… Dan tidak jarang pas acaranya bagus, ujug-ujug televisinya mati, karena accunya habis, karena waktu itu listrik PLN belum sampai di desaku sehingga televisi waktu itu masih menggunakan accu.
Hiburan lain, kalau sedang musim kemarau, biasanya di lapangan desaku ada tonil ludruk, hiburan khas jawa timuran. Aku masih ingat, waktu itu karcis tanda masuk menonton hanya Rp. 100,- Biasanya ibuku selalu ngajak nonton bareng-bareng, maklum waktu itu usiaku masih anak-anak, jadi aku belum boleh nonton sendiri. Sore hari ibuku membuat makanan kecil untuk dibawa nonton ludruk, kata ibu nanti tidak usah jajan, uang yang ada digunakan untuk membeli tiket tanda masuk, aku nurut saja..

Itulah sekelumit kisah masa kecilku dan aku yakin kisah ini tidak akan ditemui oleh anak-anak kita sekarang, aku sedih kalau mengingat masa-masa itu dan tidak terasa air mataku menetes, aku langkahkan kakiku keluar rumah, melihat bulan dan bintang yang menghiasi malam dan kemudian membayangkan masa kecilku yang menawarkan kehangatan yang selalu kurindukan.

jaNgan melupakan SEJARAH

Dulu……..
Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar tahun 70-an, setiap murid harus hafal apa dasar negara kita, apa lambang negara kita, apa lagu kebangsaan kita, siapa pemimpin negara kita dan semua itu harus hafal diluar kepala kita. Sampai-sampai tidak jarang kita mendapat hukuman karena tidak hafal.
Tetapi…………………………
Sekian tahun kemudian, taruhlah era tahun 90-an keatas, aku mencoba bertanya kepada anak, hal-hal yang menyangkut kenegaraan, contoh apa lagu kebangsaan kita, dia dengan spontan menjawab tidak tahu, apalagi menyanyikannya….
Aku belum yakin, siapa tahu anak penulis memang bodoh dan tidak mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh guru, penulis mencoba bertanya kepada anak-anak tetangga, betapa kagetnya begitu mendapatkan jawaban yang sama dengan anak penulis.
Ironis………………………..
Aku pikir, memang anaknya yang bodoh atau memang didalam kurikulum tidak ada dan penulis mencoba menanyakan, apa tiap hari Senin tidak ada upacara bendera ? Dijawab oleh anak-anak bervariasi, ada yang bilang ada dan ada juga yang mengatakan tidak pernah melaksanakan upacara bendera, padahal era penulis sekolah dulu, dari tingkat sekolah dasar sampai menengah, setiap minggu sekali melaksanakan upacara bendera.
Sering aku menjumpai orang-orang dengan gagahnya menggunakan T-shirt bertuliskan JANGAN MELUPAKAN SEJARAH, menurut pemikiranku tulisan itu baik dan mendidik, serta bertujuan mengingatkan kepada generasi muda untuk tidak melupakan sejarah masa lalu. Tetapi kenyataan yang terjadi, kita akan tercengang dan heran, kenapa justru anak-anak tidak banyak yang mengetahui dan memahami sejarah.
Sekarang ini sudah sangat-sangat jarang, sekolah-sekolah maupun instansi-instansi yang masih mau melaksanakan upacara bendera. Bagaimana bangsa kita akan menghargai sejarah kalau dari usia dini anak-anak kita tidak diajari untuk mengenal sejarah. Untuk itu, pengenalan cinta tanah air sekaligus mengenalkan sejarah harus dimulai sejak anak usia dini.
Cara tersebut, dapat ditanamkan kepada anak sejak usia dini baik di PAUD Non Formal, TK atau RA melalui Tema Tanah Airku, misalnya dengan upacara sederhana setiap hari Senin dengan menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mengucapkan Pancasila. Meskipun lagu Indonesia Raya masih sulit dan panjang untuk ukuran anak usia dini, tetapi dengan membiasakan mengajak menyanyikannya setiap hari Senin, maka anak akan hafal dan bisa memahami isi lagu. Merah Putih bisa diangkat menjadi sub tema pembelajaran.
Kegiatannya bisa diarahkan pada lima aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita anak bisa menghargai dan mencintai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dengan merawat dan menyimpan dengan baik, menghormati bendera ketika dikibarkan, serta tidak untuk permainan.
Guru sudah menyediakan banyak bendera dari kertas dengan ukuran kecil, baik bendera yang salah maupun yang benar. Secara berkelompok 3 anak bergantian, anak mencari bendera yang benar, kemudian dihitung bersama-sama, yang mendapatkan paling banyak, dialah yang menang. Tetapi kepada anak tidak dikatakan siapa yang kalah dan siapa yang menang, yang ada adalah kebersamaan, bendera digabung dan dihitung kembali jumlah bendera yang benar yang diperoleh tiga anak tersebut.
Pada aspek bahasa, anak bisa diajak membuat syair tentang benderaku, menirukan syair yang diucapkan guru, atau anak menceritakan pengalamannya sesudah lomba mengelompokkan bendera.
Kegiatan lain adalah memperingati hari besar nasional dengan kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dengan menunjukkan miniatur candi dan menceritakannya, gambar rumah dan pakaian adat, mengenakan pakaian adat pada hari Kartini, serta mengunjungi museum terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau bermain peran.
Bisa juga diintegrasikan dalam tema lain melalui pembiasaan sikap dan perilaku, misalnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyanyangi sesama dan makhluk Tuhan yang lain, tenggang rasa dan menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adalah juga perwujudan rasa cinta tanah air.
Yang tidak kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu. Dengan menyanyi apalagi jika diiringi dengan musik, anak akan merasa senang, gembira, serta lebih mudah hafal dan memahami pesan yang akan disampaikan guru. Jika lagu wajib nasional dianggap masih terlalu sulit untuk anak, maka guru bisa menciptakan lagu sendiri yang sesuai untuk anak usia dini.
Guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya di sekolah termasuk dalam menciptakan lagu. Lagu untuk anak usia dini biasanya dengan kalimat yang sederhana, mudah diucapkan, mudah dipahami dan dihafalkan. Lagu sebaiknya yang bernada riang gembira, karena hal ini akan merangsang perkembangan otak anak, anak terbiasa untuk selalu riang dalam bekerja, cepat dalam menghadapi dan memutuskan masalah, tidak cepat putus asa.
Sedangkan jika tujuannya hanya untuk memperdengarkan musik pada anak, bisa dengan lagu atau instrumen musik yang lebih halus dan tenang. Misalnya, lagu Kebangsaan Indonesia Pusaka, Syukur, Tanah Air.
Dengan demikian, generasi muda yang akan datang tidak ada lagi yang tidak mengenal sejarah masa lalu.
Ada sedikit pengalaman sekaligus cerita, ketika itu aku mengikuti upacara peringatan hari Pahlawan tanggal 10 Nopember tingkat kabupaten, pada acara tabur bunga sekelompok peserta upacara yang berbaris di kelompok tamu dan undangan, yang kalau kita lihat mereka dari instansi yang terhormat, karena pakaian mereka perlente, menggunakan jas dan berdasi, gagah dan berwibawa. Tetapi ketika pimpinan upacara diikuti tamu undangan yang lain melaksanakan tabur bunga, kelompok yang menggunakan pakaian jas dan berdasi tersebut tidak mau mengikuti dan melaksanakan tabur bunga.
Hati kecil penulis bertanya, ada apa gerangan…..kenapa mereka tidak mau mengikuti tabur bunga? salahkah apabila mereka itu memberikan penghormatan kepada arwah para pahlawan kita?

menggapai pUncaK lawu


Sabtu, 24 Nopember 2009, pukul 04.00 saya bangun dari tidur dan segera berkemas-kemas, karena pagi ini saya akan mengikuti tim Komandan mendaki puncak gunung lawu. Setelah berkumpul di depan Mako, kami briefing sebentar diambil oleh Kepala urusan umum dan setelah di chek lengkap, kami segera berangkat menuju titik berkumpul di Cemoro Sewu, karena Komandan sudah meluncur duluan dan menunggu di tempat titik berkumpul. Sekitar jam 05.45 pagi kami sudah siap di depan gapura jalan utama pendakian Cemoro Sewu dan diambil oleh Komandan, setelah briefing sebentar Komandan menyampaikan bahwa kita mendaki melalui jalur pendakian cemoro sewu dan turun melalui jalur cemoro kandang. Karena ada dua titik jalur pendakian yang tersedia, jalur Cemoro Sewu yang masuk wilayah Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Jalur Cemoro Kandang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa tengah. Setelah semua siap, komandan memimpin kami untuk berdo’a, lalu mulailah kami melangkahkan kaki menyusuri jalur pendakian. Saya hanya berbekal tas kecil berisi sebungkus roti dan tiga botol air mineral, tidak seperti layaknya para pendaki, yang berbekal berbagai perlengkapan pendakian. Pagi itu cuaca cukup cerah, mudah-mudahan saja pendakian lancar.
Menurut informasi dari penduduk sekitar gerbang pendakian, jarak pendakian ke puncak Lawu dari arah Cemoro Sewu sekitar 9.000 m, sedangkan bila dicapai dari arah Cemoro Kandang 12.000 m.
Rute Cemoro Sewu ini memang rute yang enak dan aman. Sepanjang jalan di rute ini kondisinya berupa jalan berbatu, yaitu jalan yang sudah diperkeras dengan pemasangan batu. Tidak ada lagi jalan tanah. Nampaknya pemerintah Magetan melihat perlunya memperbaiki fasilitas jalan menuju puncak Lawu, demi kenyamanan dan keamanan para peziarah maupun juga bagi wisatawan, pecinta alam atau pendaki gunung. Pembangunan infrastruktur jalan batu ini baru diselesaikan sejak beberapa tahun terakhir.
Beberapa ratus meter pertama menyusuri jalur pendakian ini kami melewati kawasan hutan cemara. Jalan batu yang mulai agak menanjak bagai membelah rimbunan pepohonan cemara yang tumbuh liar di sisi kiri dan kanan jalan. Kami pun naik-naik ke puncak gunung… tinggi… tinggi sekali…. kiri kanan kulihat saja… banyak pohon cemara… Begitu, senandung dalam hati.
Barangkali itulah sebabnya kawasan itu disebut Cemoro Sewu, karena banyaknya pohon cemara di sana. Baunya khas, suasananya damai, pemandangannya hijau menyejukkan (selain karena cuaca cukup cerah dan angin dingin masih berhembus sepoi-sepoi basah).
Setelah beristirahat di POS-1 Wasenan yang relatif datar dengan jarak kurang lebih 1,99 Km, kami melanjutkan perjalanan ke Pos-2 (Watugedhek) dengan jarak kurang lebih 2 km. Kelelahan sudah memuncak akibat dari pagi hingga POS-2 saya dan rombongan belum istirahat dan saya memutuskan untuk berjalan terus walaupun akhirnya saya ketinggalan dari rombongan dan berjalan sendirian.
Perjalanan menuju POS-3 (watu gedhe) yang berjarak hanya 700 meter namun rutenya terus mendaki dengan bebatuan tajam membuat lambatnya perjalanan,, saya sendirian berjalan tertatih-tatih dan saya sempat berpikiran untuk kembali, namun saya bertekat untuk bisa mencapai puncak lawu dan akhirnya sampailah kami di POS-3 dan istirahat sebentar sambil menenggak minuman mineral yang saya bawa.


Perjalanan dari Pos-3 watu gedhe sampai Pos-4 watu kapur hanya berjarak 200 meter selanjutnya ke Pos-5 Jolotundo dengan jarak 300 meter merupakan perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, tanjakan curam dan pipa-pipa besi pegangan seolah nggak pernah habis, tanjakan curam dan pegangan besi yang terasa dingin apabila dipegang menghambat perjalanan saya. Setiap langkah saya berhenti untuk istirahat, akhirnya sampailah saya di pos 5 (Jolotundo).
Tidak berapa lama kemudian saya melanjutkan kembali perjalanan saya, sambil tertatih-tatih saya melangkah dan melangkah akhirnya tibalah saya di Sendang Drajat. Saya bertemu sepasang suami istri mbok yem dan pak parto saya memutuskan untuk istirahat, saya melongok rumah yang dihuni oleh mbok yem, kebetulan sedang menggoreng tempe, saya mengambil sepotong tempe, sambil menikmati tempe saya terlentang di teras rumah mbok yem, tak berapa lama kemudian pak parto mengambil selembar tikar dan menggelarnya, “niki mas buat alas, dingin disini”. Setelah menikmati 3 potong tempe goreng dan membayarnya, “tiga ribu mas”, kata mbok yem, saya memutuskan untuk berjalan kembali. Tidak berapa lama saya sampai di hargo dalem dan saya ketemu seorang perempuan, “dibawah masih banyak to mas”, saya jawab “masih, buk”, di hargo dalem saya melihat ada beberapa bangunan rumah berdiri kokoh dan bendera merah putih berkibar, saya bergumam, ada juga ya yang mau mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung nan sepi ini. Ketika saya meliwati bangunan rumah, saya ragu-ragu karena jalan menuju puncak tidak jelas dan tidak ada petunjuk, saya balik lagi ke rumah-rumah itu, kebetulan ada seorang laki-laki sedang makan, saya bertanya, “mas, jalan menuju puncak mana”, laki-laki itu keluar rumah sambil memegang piring nasi, “lewat samping itu pak lurus keatas, paling 10 menit lagi sampai puncak”, katanya. Sambil tertatih-tatih, saya berjalan mengikuti petunjuk yang disampakan orang tadi, tetapi karena begitu banyak jalan persimpangan, saya jadi bingung. Disaat saya bingung menentukan arah, tiba-tiba ada 2 ekor burung menghampiri saya, saya jadi ingat cerita orang-orang yang pernah mendaki puncak lawu, bahwa ada sejenis burung yang ketika kita bingung mencari jalan, akan membantu kita. akhirnya saya mencoba mengikuti kedua ekor burung itu, akhirnya saya mendengar suara teman-teman, saya berpikir mungkin itu puncaknya.
Dan.....Alhamdullillahi robbil alamin..... sungguh saat-saat seperti ini adalah suatu kenikmatan yang luar biasa, akhirnya sampailah aku di puncak lawu 3265 dpl

Selasa, 08 Desember 2009

Thank You


Ada kegelapan yang menyelimuti kehidupanku.....
Pekat.....membuatku sesak tidak dapat bernafas.
Lelah....
Diam ...

Tiba tiba dia datang..
Tawarkan cahaya kebahagiaan.
Cahaya hangat yang membuat duniaku terang dan tersenyum....
Thank You... untuk kebahagian ini.

dinGiN....

dingin....dingin...
entahlah....
hati ini berkecamuk....
antara gundah dan gelisah....
hati ini
hidup semakin hari semakin berat..
mampukah  aku ?  itu yang kadang menjadi pertanyaanku...

Senin, 18 Mei 2009

APAKAH PERLU SEORANG KEPALA DESA BERPENDIDIKAN FORMAL ?

APAKAH PERLU SEORANG KEPALA DESA HARUS MEMPUNYAI PENDIDIKAN FORMAL ?

Umum.

Dalam menerapkan kepemimpinan di suatu pemerintahan, baik itu tingkat pemerintahan desa sampai dengan yang tertinggi, keberhasilan merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai. Salah satu faktor yang menentukan hal ini adalah bagaimana seorang pemimpin bisa memimpin di pemerintahan yang dipimpinnya. Karena dalam kepemimpinannya akan selalu dihadapkan pada permasalahan bagaimana ia dapat memimpin dengan tepat guna dan berhasil guna.Pengendalian yang baik akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya suatu kepemimpinan, oleh karena itu untuk mendukung kelancaran tugas yang akan diberikan kepada suatu pemerintahan, maka seorang pemimpin harus mampu membuat perencanaan, persiapan dan pelaksanaan serta pengawasan dan pengendalian yang baik dalam penyelesaian tugas tersebut.Desa/kelurahan merupakan lembaga pemerintahan terendah yang menyelenggarakan pemerintahan. Oleh karena itu seorang Kepala Desa dituntut untuk mampu menerapkan kepemimpinannya, baik di kantor maupun di masyarakat. Banyak permasalahan yang dialami oleh Kepala Desa karena ketidakmampuan seorang Kepala Desa menerapkan kepemimpinannya.Dihadapkan dengan kenyataan yang ada, banyak dijumpai bahwa Kepala Dea dalam menerapkan kepemimpinan belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini disebabkan belum disadarinya peran tersebut oleh Kepala Desa sehingga menyebabkan kegagalan dalam membangun Desanya.Untuk mengatasi keterpurukan peran Kepala Desa dalam menerapkan kepemimpinannya, maka perlunya seorang Kepala Desa mempunyai dasar pendidikan yang memadai, agar mampu menjadi suri tauladan bagi masyarakat desa.Tujuan. Tulisan ini bertujuan sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat atau daerah dalam meningkatkan peran pemimpin terutama Kepala Desa.Pendekatan. Tulisan ini disusun dengan menggunakan pendekatan yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan.



LATAR BELAKANG PEMIKIRAN


Umum.
Kepemimpinan merupakan ilmu yang dapat dimiliki setiap orang yang pandai memahami azas, penerapan prinsip serta teknik kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.


Permasalahan.

Kepala Desa sebagai seorang pemimpin kadang-kadang tidak dapat memainkan perannya sebagai pemimpin karena tidak tahu tugas dan tanggung jawabnya.Masih banyak Kepala Desa yang tidak menguasai hal-hal yang mendasar yang seharusnya dikuasai dan dimiliki seorang Kepala Desa dalam memimpin Desanya sehingga timbul rasa tidak percara diri. Seorang Kepala Desa yang kurang memiliki pengetahuan dan enggan mengembangkan kemampuan kepemimpinan, tidak akan dapat memberi contoh dan tauladan yang baik kepada masyarakatnya, sehingga masyarakat tidak mempunyai panutan untuk diikuti dan akan timbul krisis kepercayaan.


Pendidikan.

Khususnya pendidikan formal kadang terabaikan, banyak Kepala Desa yang masih berijasah SD, kalaupun mempunyai ijasah SLTP/SLTA, mereka mendapatkan dari jalur cepatatau beli. Padahal kita tahu, bahwa masyarakat sekarang rata-rata berpendidikan cukup, malah pemerintah sudah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, ironis kalau seorang pemimpin sekelas Kepala Desa tidak berpendidikan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh besar terhadap wibawa dan sikap serta pandangan seseorang terhadap suatu masalah atau persoalan. Demikian pula pengaruhnya terhadap sikap kepemimpinan seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin luas wawasan dan cara pandangnya terhadap suatu masalah. Akan semakin baik jika seorang Kepala Desa mengambil kesempatan untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi atau jenis pendidikan lain yang dapat menunjang karir dan strata pangkat atau golongan.


Latar belakang.

Banyak seorang Kepala Desa yang latar belakangnya tidak jelas, contoh saja ada Kepala Desa di wilayah penulis tinggal, dia seorang bandar judi kelas Kakap mulai dari judi togel, sabung ayam, dadu dll.

Sebelum menjadi Kepala Desa, kehidupan dan pekerjaan dia sehari-hari adalah JUDI. Malah pernah menjadi Caleg dari salah satu Partai Pemilu. Dalam perjalanan pencalonan Caleg, dia terjerat masalah ijasah, karena foto ijasah SMP kok sudah berkumis dan usianya sudah setengah abad. Ironis khan, lantas mau dibawa kemana negara ini, kalau pemimpinnya saja sudah bejat seperti itu, hingga sekarang karena punya uang dan massa banyak yang notabenenya adalah teman penjudi, jadilah Kepala Desa di Desa penulis.

Padahal kepemimpinan Kepala Desa akan berpengaruh terhadap keberhasilan Desanya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat membawa kehancuran.


Faktor tersebut adalah :

Mental. Kepala Desa tidak memiliki kesiapan mental untuk menjadi pemimpin, karena berasal dari masyarakat biasa dan dari latar belakang bermacam-macam, bagaimana bisa memimpin, sekolah saja hanya SD.- Kepala Desa lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan umum, karena pada saat mencalonkan sudah keluar dana besar untuk menarik simpati warganya, dia tidak segang-segang mengeluarkan uang.- Kurangnya keyakinan pada diri sendiri karena kurangnya pendidikan sehingga ada perasaan takut untuk menghadapi permasalahan.


Moril.- Moril rendah karena tidak didukung oleh kemampuan untuk menghadapi berbagai macam kesulitan yang mungkin terjadi.- Tidak memiliki rasa bangga dalam dirinya bahwa pemimpin adalah kehormatan.- Ada yang beranggapan bahwa dengan menjadi Kepala Desa akan kaya raya, sehingga mereka lebih berpikir mencari uang untuk mengganti modal yang mereka keluarkan pasca pemilihan, sehingga tidak ada motivasi dalam dirinya kecuali mencari keuntungan.


Disiplin.- Tidak memiliki disiplin yang baik, karena sumber mereka dari masyarakat biasa dan tidak berpendidikan.- Banyak dari Kepala Desa yang tidak mematuhi peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, dikarenakan pendidkan yang mereka punyai terbatas.Kepemimpinan Kepala Desa yang diharapkan. Melihat kondisi kepemimpinan Kepala Desa saat ini diharapkan di masa yang akan datang muncul Kepala Desa yang memiliki latar belakang pendidikan dan wawaan yang tinggi yang mengerti akan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya. Sehingga mampu menjawab tantangan tugas di masa yang akan datang seperti yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.


Demikian tulisan saya, semoga menjadi bahan pemikiran pemimpin-pemimpin yang diatas, sehingga pada masa yang mendatang ada cara lain yang lebih profesional dan proporsional dalam pemilihan Kepala Desa. Sehingga tidak ada lagi Kepala Desa yang latar belakangnya bekas Preman.

PENDAPAT orang lemah

saya, tidaklah bodoh-bodoh amat....mungkin diantara pembaca ada yang sependapat, apakah diri saya yang sebenarnya tidak terlalu ketinggalan dengan hal-hal yang berbau kemajuan ini dikatakan goblok (?). apakah orang yang sebenarnya bodoh dengan memaksakan diri itu dikatakan pintar ?